Meski kita begitu dekat, namun aku tak pernah bisa menghitung jumlah detak jantungmu atau sekedar melukiskan senyum bibirmu dalam uraturat lamunku.
Haruskah kita saling menggilai harapan, yang tibatiba menjelma menjadi rindu,lalu sepi.
semetara jarak begitu menggilai perpisahan, seperti gilanya malam pada bintang atau gilanya pagi pada mentari, agar kita tak saling melukai lalu perlahan-lahan saling melupakan.
Oh Tuhan...
"seandainya waktu bisa diputar kembali,aku memilih untuk tidak mengenalmu" pintamu
"seandainya waktu bisa diputar kembali,aku memilih kita dilahirkan tanpa jarak" pintaku
Walau kadang kita gugup mengeja huruf demi huruf harapan, semoga jarak tak pernah lupa menuliskan huruf demi huruf sebuah nama, sebuah nama yang tlah memberi banyak kenangan.
namamu dijiwaku dan namaku dijiwamu.
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Bulan Bernostalgia
Marhaban Ya Ramadhan
Jiwa beringas melanglang buana
Dalam hari-hari tak beraksara
Lelah sudah, jiwa berkelana
Sejenak ingin menghela nafas lepas dalam buaian fata morgana
Diantara malam kelam bergelora
Bebisik telisik hati yang lara
Adakah yang dapat tercipta,..?
Angin yang berjabat tangan
Pada daun-daun berguguran
Pada ilalang di hamparan
Pada air lautan pasir pesisisr
Mengucap salam pada sang bulan bernostalgia
Yach,,,Bulan bernostalgia,
Lembar demi lembar cerita mulai tersingkap
Cerita lama, yang takkan pernah usang ditelan masa
Marhaban Ya Ramadhan
Saat bulan bernostalgia,
Adakah yang bisa dirasa...?
Adakah yang bisa dibaca..?
Dari setiap cerita-ceritaNya
Dalam jiwa tak berbusana, dalam hati yang safa
Mencoba merasa,membaca bait demi bait
Dari setiap cerita bulan bernostalgia
Yang begitu jelas, tertulis dalam kitabNya
Jiwa beringas melanglang buana
Dalam hari-hari tak beraksara
Lelah sudah, jiwa berkelana
Sejenak ingin menghela nafas lepas dalam buaian fata morgana
Diantara malam kelam bergelora
Bebisik telisik hati yang lara
Adakah yang dapat tercipta,..?
Angin yang berjabat tangan
Pada daun-daun berguguran
Pada ilalang di hamparan
Pada air lautan pasir pesisisr
Mengucap salam pada sang bulan bernostalgia
Yach,,,Bulan bernostalgia,
Lembar demi lembar cerita mulai tersingkap
Cerita lama, yang takkan pernah usang ditelan masa
Marhaban Ya Ramadhan
Saat bulan bernostalgia,
Adakah yang bisa dirasa...?
Adakah yang bisa dibaca..?
Dari setiap cerita-ceritaNya
Dalam jiwa tak berbusana, dalam hati yang safa
Mencoba merasa,membaca bait demi bait
Dari setiap cerita bulan bernostalgia
Yang begitu jelas, tertulis dalam kitabNya
Istirahatlah, Naga
Elok rupamu,naga
Melingkar-lingkar ditengah tengah kota
Kau datang menari-nari, bak seorang putri
Auramu sanggup mematung sejuta mata
Kini...
Kenapa dgn matamu yg indah,naga...?
Berkaca-kaca, menetes air mata darah
"Gemuruh suara, pekakkan telinga
Jiwa-jiwa tertawa, menangis, menjerit, caci maki"
Suara itukah yg membuat kau menangis,naga...?
Auramu memecah jiwa
Tak ada senja, tak ada mega
Langit biru memerah
Istirahatlah,naga
Tidurlah hingga kau terlelap
Sebelum esok kau melihat anak kecil
Mengais darah dipinggiran kota
Tunjuklah Satu Mentari
rintik-rintik hujan meraba jendela bisu
kulihat terpasung senyummu lugu
masihkah kau disitu..?
menungguku dengan segumpal getar-getar rindu..?
saat angin berhembus mesra
kudengar bait-bait kata
yang dulu pernah kita cipta
masihkah kau disitu..?
mengharapkanku dengan segenap rasa..?
alunan gendang melayu mendayu sendu
mengiringi langkahku kelabu
aku yang cemburu pada burung-burung diatas bambu
tak sanggup mengalihkan jiwaku pada masa lalu
masihkah kau ingin disitu..?
jiwaku yg terkapar oleh rindu
tersesat dalam lingkaran waktu
ingin kurebahkan tubuhku,
diatas butiran butiran pasir mendesir
saat senja itu tiba
tunjuklah satu mentari
sebab disanalah ingin kutumpahkan semua rasa rindu
dan..
biarkanlah semuanya tenggelam bersama senja
hingga satu mentari kembali bersama rindu yang bersemi
kulihat terpasung senyummu lugu
masihkah kau disitu..?
menungguku dengan segumpal getar-getar rindu..?
saat angin berhembus mesra
kudengar bait-bait kata
yang dulu pernah kita cipta
masihkah kau disitu..?
mengharapkanku dengan segenap rasa..?
alunan gendang melayu mendayu sendu
mengiringi langkahku kelabu
aku yang cemburu pada burung-burung diatas bambu
tak sanggup mengalihkan jiwaku pada masa lalu
masihkah kau ingin disitu..?
jiwaku yg terkapar oleh rindu
tersesat dalam lingkaran waktu
ingin kurebahkan tubuhku,
diatas butiran butiran pasir mendesir
saat senja itu tiba
tunjuklah satu mentari
sebab disanalah ingin kutumpahkan semua rasa rindu
dan..
biarkanlah semuanya tenggelam bersama senja
hingga satu mentari kembali bersama rindu yang bersemi
Hujan Itu....
Hujan itu...
Setiap ku melihatnya
Setiap ku merasakanya
Hujan itu seakan membawaku kembali
Pada sebuah kenangan
Kenangan yang masih tersimpan rapi
Kenangan yang masih melukis indah
Ingatkah kau...
Saat hujan itu tiba
Semua rasa melebur menjadi satu
Rasamu, rasaku
Menari-nari indah dalam bingkai hujan
Dan kini...
Kemesraan yang pernah kau taburkan
Hanya menyisakan kerinduan
Kerinduanku pada hujan
Setiap ku melihatnya
Setiap ku merasakanya
Hujan itu seakan membawaku kembali
Pada sebuah kenangan
Kenangan yang masih tersimpan rapi
Kenangan yang masih melukis indah
Ingatkah kau...
Saat hujan itu tiba
Semua rasa melebur menjadi satu
Rasamu, rasaku
Menari-nari indah dalam bingkai hujan
Dan kini...
Kemesraan yang pernah kau taburkan
Hanya menyisakan kerinduan
Kerinduanku pada hujan
Malam Ku
Saat malam itu tiba
Ku kalungkan jubah kebanggaanku
Semua orang menatap dengan penuh senyum
Gelak tawa terpancar dari bibir mereka
Hingga larut, sejenak terlelap dalam dekapanya
Saat fajar itu tiba
Ku kalungkan kembali jubah kebanggaanku
Namun...Ku kalungkan jubah kebanggaanku
Semua orang menatap dengan penuh senyum
Gelak tawa terpancar dari bibir mereka
Hingga larut, sejenak terlelap dalam dekapanya
Saat fajar itu tiba
Ku kalungkan kembali jubah kebanggaanku
Tak satupun dari mereka tersenyum
Tak satupun dari meraka tertawa bangga
Kusam, kusut wajah meraka
Gelak tawa berubah menjadi ejekan
Saat faja itu tiba
Semuanya kecil
Semuanya kotor
Aku sadar...
Aku tertipu oleh malam
Malam itu telah membuatku berkhayal
Berhayal dalam kebesaran
Berhayal dalam kesucian
Kini...
Malam itu membuatku takut...
Walau kadang terlena dibuainya
Mamal itu menyiksa pikiranku
Walau kadang pasrah dalam dekapanya
Saat 12 Rabi'ul Awal
Ya Nabi salam alaika
Dunia tunduk saat kehadiranmu
Dunia takjub atas perjuanganmu
Dunia menangis saat kepergianmu
Ya rasul salam alaika
Berjuta-juta jiwa begitu menghapkanmu
Mengharapkan cahaya yang bermuara
Dalam hatimu, katamu dan sikapmu
Ya Habib salam alaika
Bila hari ini tiba
Berjuta-juta jiwa memanggil namamu
Mengharapkan kesejukan raga
Bila hari ini tiba
Berjuta air mata tak lelah tertetes
Mengharapkan ketentramkan jiwa
Sholawatulloh alaika
Alahkah bahagianya
Bila cahayamu merasuk
Bersemayam dalam jiwa gelap ini
Dunia tunduk saat kehadiranmu
Dunia takjub atas perjuanganmu
Dunia menangis saat kepergianmu
Ya rasul salam alaika
Berjuta-juta jiwa begitu menghapkanmu
Mengharapkan cahaya yang bermuara
Dalam hatimu, katamu dan sikapmu
Ya Habib salam alaika
Bila hari ini tiba
Berjuta-juta jiwa memanggil namamu
Mengharapkan kesejukan raga
Bila hari ini tiba
Berjuta air mata tak lelah tertetes
Mengharapkan ketentramkan jiwa
Sholawatulloh alaika
Alahkah bahagianya
Bila cahayamu merasuk
Bersemayam dalam jiwa gelap ini
Bagai Pelita dan Cahaya
Engkaulah Pelita
Dan kami hanya cahaya
Berjuta-juta cahaya
Terpancar dari Pelita yang sama
Berganti warna
Seiring waktu yang berbeda
Pelita tak pernah berubah
Cahaya bertingkat-tingkat
Dengan sesama cahay
Satu lenyap tertindih cahaya lainya
Melebur menjadi cahaya utama
Kemudian lenyap
Kembali kedalam Pelita
Engkaulah sumber cahaya
Dan kami hanya salah satu cahaya
Dari miliaran pendar cahaya
Yang terpancar dari Sang Pelita
Dan kami hanya cahaya
Berjuta-juta cahaya
Terpancar dari Pelita yang sama
Berganti warna
Seiring waktu yang berbeda
Pelita tak pernah berubah
Cahaya bertingkat-tingkat
Dengan sesama cahay
Satu lenyap tertindih cahaya lainya
Melebur menjadi cahaya utama
Kemudian lenyap
Kembali kedalam Pelita
Engkaulah sumber cahaya
Dan kami hanya salah satu cahaya
Dari miliaran pendar cahaya
Yang terpancar dari Sang Pelita
Ma'af
Setelah semuanya berlalu
Kini dirimu ingin kembali dalam kehidupanku
Setelah rasa ini berhenti
Kini kau ingin taburi lagi dengan rasa baru
Aku lelah
Aku bosan dengan semua egomu
Dengan alasan apa aku harus kembali...???
Halus tutur katamu
Lembut sikapmu
Takkan membuat rasa itu kembali
Sebab duri yanga kau tanamkan
Masih tertancap rapi dalam lipatan hati
Takkah kau mengerti...???
Dibawah rintik hujan
Kubiarkan rasa itu pergi
Terbawa hembusan angin
Hampa dalam senja
Takkah kau menyadari...???
Kini...
Biarkan aku bebas
Biarkan aku bernafas
Nafsu
Demi sebuah nafsu
kau rampas hak mereka
kau injak-injak harga diri mereka
kau hancurkan kebahagian mereka
kau jadikan sahabat sebagai senjata
kau jadikan sahabat sebagai musuh
kau adu domba mereka
Dimanakah hati nuranimu...???
Demi sebuah nafsu
kau rela korbankan kebahagian keluarga
kau cerai beraikan mereka
Bahkan kau rela jual agama dan kehormatan mereka
Dimanakah akal sehatmu....???
Demi sebuah nafsu
kau relakan dirimu dijajah
kau relakan dirimu diperbudak
Inikah yang kau sebut kesetiaan...???
Demi sebuah nafsu
kegelapan kau jadikan sebagai cahaya
Kau buta pada kesengsaraan
Kau tuli pada kebenaran
Kau bisu pada kejujuran
Inikah yang kau sebut masa depan...???
Cinta Sang Nabi (Kahlil Gibran)
ikutlah dengannya
Meskipun jalan yang harus kautempuh keras dan terjal
Ketika sayap-sayapnya merengkuhmu,
serahkan dirimu padanya
Meskipun pedang-pedang yang ada di balik sayap-sayap itu mungkin akan melukaimu
Dan jika ia berbicara padamu, percayalah
Meskipun suaranya akan membuyarkan mimpi-mimpimu bagaikan angin utara yang memporakporandakan petamanan.
Tapi cinta juga akan mencengkeram,
menggoyang akar-akarmu hingga tercerabut dari bumi
Bagai seikat gandum ia satukan dirimu dengan dirinya
Menebahmu hingga telanjang
Menggerusmu agar kau terbebas dari kulit luarmu
Menggilasmu untuk memutihkan
Melumatmu hingga kau menjadi liat
Jangan biarkan rasa takut bersarang,
agar kau tak hanya menjadikan cinta tempat mencari senang.
Karena akan lebih baik bagimu untuk segera menutupi ketelanjangan dan berlalu dari lantai penebahan cinta,
Menuju dunia tanpa musim dimana engkau akan puas tertawa,
gelak yang bukan tawamu, dan engkau akan menangis, air mata yang bukan tangismu.
Cinta tidak memberi apapun kecuali dirinya sendiri dan tidak meminta apapun selain cinta itu sendiri,
Ia tidak memiliki dan tidak dimiliki
Karena cinta hanya untuk cinta
Biografi klik disini
Seandainya Aku Bisa
Seandainya aku bisa
Ingin slalu membuatmu tersenyum
Seandainya aku bisa
Ingin selalu membuatmu tertawa
Seandainya aku bisa
Ingin salalu menemani dalam sepi sunyimu
Bagaimana mungkin aku tidak mengagumimu
Saat jiwa ini mulai lelah
Kau hadir dalam separuh rasaku
Mengajakku berlari menggapai semua mimpi
Saat raga ini mulai gelisah
Kau hadir mengisi ruang kosong
Dalam lipatan-lipatan sunyi jiwaku
Bagaimana mungkin aku tidak memujimu
Benih bunga yang kau tabur
Tumbuh menjadi bunga bunga indah
Mengharumi di tepian relung jiwaku
Oh jiwaku...
Aku hanyalah duri
Slalu menyakitkan, menusuk dalam setiap lanhkahmu
Tak pernah bisa menjadi lentera
Saat malam kelam menjamahmu
Tak pernah bisa menemanimu
Saat sunyi meraba jiwamu
Aku hanyalah tebing
Menjadi penghalang dalam impianmu
Sekeping cahaya yang selama ini kau harapkan
Sekeping cahaya yang sudah terukir dalam rinai-rinai mimpimu
Seandainya aku bisa
Ingin kubuang semua rasa
Agar tak lagi menjadi racun
Dalam cangkir kehidupanmu
Rindu Pada Kegilaanku
Syair-syair indah itu membuatku rindu
Terlantun merdu mendayu sendu
Memecah ruang nafsu
Syair terindah yang pernah kubaca
Syair terindah yang pernah kudengar
Bergejolak dalam jiwa gelisah
Mengalir dalam aliran darah
Mencumbu merayu pada raga resah
Kerinduan membuatku gila
Seperti kegialaan pemabuk pada tuaknya
Seperti kegilaan pujangga pada kata-katanya
Aku rindu pada kegilaanku
Kegilaan yang membuatku lupa
Pada diriku pada diri mereka
Pada jiwaku pada jiwa mereka
Pada duniaku pada dunia mereka
Semakin kudengar, semakin diriku rindu
Semakin kubaca, semakin diriku gila
Damai, tentram dalam jiwa hampa
Aku terlena, aku terpesona
Masihkah jiwaku disitu
Yang slalu merindukan kegialaan
Kegilaan pada syair-syair itu
Senjaku
Ditepian pantai….
Kebahagiaan hati bercerita dalam senja
Saat mentari mulai memejam
Sunyi sepi menjadi tembang malam
Sejenak lentingan suara ombak
Memecah kesunyian
menderu deras memanjang, menerjang
Pasir-pasir mungil menggigil
Mencumbu ragaku lesu
Terbaring menatap singgasana biru
Bintang-bintang menari memasrah diri
Ditepian pantai…
Ingin ku tadah semua rasa
Kusimpan dalam gelas kaca permata
Agar dapat kutatap indahnya imajinasi
Memupuk goresan hati tersakiti
Ingin kutumpahkan semua gelisah
Saat penat mengekang
Saat pikiran menggarang
Merajut kembali ketenangan
Saat jiwa mulai gersang
Namun…
Semua hanyalah buih-buih ombak
Menampar kedasaran pantai
Memberi kesejukan
Menyapa, meraba tubuh terlelap merapuh
Tapi tak dapat digenggam erat jari-jari bisu
Suara Kecil

Gerimis memberi kabar
Disepanjang trotoar
Dikolong jembatan liar
Suara kecil hingar bingar
Kain kusut membalut
Kotor, lusuh
Raganya usang berselimut dingin
Berlari-lari kecil menggigil
Lirih suara tertawa meresap jiwa bahagia
Menatap asa bercumbu rayu
Pilu, haru
Bersama waktu
Membisu menatap langit biru
Jantungnya berdetak kencang
Tegang, tercengang, mengawang
Sebuah impian diujung jalan persimpangan
Bermimpi, menggali harapan bersembunyi
Penuh misteri, penuh teka-teki
Walau tak kunjung pasti
Selalu tegar, sabar untuk menanti
Ungkapan Cinta Rabiatul Adawiyah

Tuhanku...jika laku ibadahku
Hanya untuk menjauhkan diriku daripada api neraka-Mu,
Maka kelak bakarlah aku dengan api neraka-Mu.
Jika sembahanku hanya untuk meraih syurga-Mu,
Maka haramkan syurga-Mu bagi diriku.
Adapun apabila ibadahku hanya ingin beroleh kasih sayang-Mu,
Berilah aku kurnia-Mu yang besar.
Kurniakanlah kepadaku agar dapat melihat wajah-Mu
Wahai Yang Maha Perkasa dan Maha Mulia
Mengejarmu

Menjamahmu dalam sangkar
Kian terdengar
Dari bibir manis
Hingar bingar seperti tangis
Aku mau dengan semua egomu
Namun ku ragu dengan perasaanku
Aku malu dengan nistaku
Namun aku yakin dengan asaku
Embun pagi kian memucat mengajarkan aku
Bersuara pada rasa, belajar pada nyata
Tertawa pada ilusi, benci pada mimpi
Walau aku seperti pecundang Ditelanjangi dan terkekang
Aku masih ingin berdiri
Dan terus berdiri
Kian terdengar
Dari bibir manis
Hingar bingar seperti tangis
Aku mau dengan semua egomu
Namun ku ragu dengan perasaanku
Aku malu dengan nistaku
Namun aku yakin dengan asaku
Embun pagi kian memucat mengajarkan aku
Bersuara pada rasa, belajar pada nyata
Tertawa pada ilusi, benci pada mimpi
Walau aku seperti pecundang Ditelanjangi dan terkekang
Aku masih ingin berdiri
Dan terus berdiri
Ingin Ku
Malam ini
Tertunduk dalam sunyi
Menanggalkan semua resah
Menaggalkan semua gelisah
Diatas sajadah terhampar
Hati bergetar mencoba bersabar
Mencoba terus mengejar
Walau jiwa terasa lapar
Aku iri
Pada jiwa yang bersemi
Aku benci
Pada jiwa yang penuh duri
Dalam diam
Mencoba tiduri perawannya malam
Diantara lukaku yang rawan
Tuk memeras secangkir harapan
Tertunduk dalam sunyi
Menanggalkan semua resah
Menaggalkan semua gelisah
Diatas sajadah terhampar
Hati bergetar mencoba bersabar
Mencoba terus mengejar
Walau jiwa terasa lapar
Aku iri
Pada jiwa yang bersemi
Aku benci
Pada jiwa yang penuh duri
Dalam diam
Mencoba tiduri perawannya malam
Diantara lukaku yang rawan
Tuk memeras secangkir harapan
Risalah Hati

Anganku pergi berlari
Tanpa henti mengejar mimpi
Sejenak ku tegak berdiri
Mencari inspirasi
Rintik rintik hujan dipersimpangan
Mengisahkan kenangan menyesakkan
Jiwaku yang masih tercengang
Seperti rantai terus mengekang
Lelah sudah raga ini
Terjebak pada sebuah misteri
Menjadi teror dalam mimpi
Namun begitu menyakitkan hati
entah..
masih adakah esok hari
masih bisakah ku raih kembali
masih sanggupkan ku kembali berdiri
Diatas kanvas ku coba berilusi
Meluapkan semua risalah hati
Merangkai dengan warna warni
Walau semuanya tak pasti
Tanpa henti mengejar mimpi
Sejenak ku tegak berdiri
Mencari inspirasi
Rintik rintik hujan dipersimpangan
Mengisahkan kenangan menyesakkan
Jiwaku yang masih tercengang
Seperti rantai terus mengekang
Lelah sudah raga ini
Terjebak pada sebuah misteri
Menjadi teror dalam mimpi
Namun begitu menyakitkan hati
entah..
masih adakah esok hari
masih bisakah ku raih kembali
masih sanggupkan ku kembali berdiri
Diatas kanvas ku coba berilusi
Meluapkan semua risalah hati
Merangkai dengan warna warni
Walau semuanya tak pasti
Seribu Purnama

Setelah seribu purnama
Terasuki oleh nafsu
Terbelenggu oleh waktu
Walau asa terus memaki
Takkan pernah bisa berlari
Saat semuanya sirna
Haruskah berduka atau tertawa
Ku tak pernah bisa membaca
Walau semua aksara jiwa
Mengalir dalam aorta
Saat tak ada yang mengerti
Untuk apa harus berlari
Untuk apa menjerit
Meronta-ronta dijalanan
Seperti orang pesakitan
Saat ini
Ku hanya inigin sendiri
Memasrah mematung diri
Di gerogoti oleh mimpi
Hingga seribu purnama kembali
Terasuki oleh nafsu
Terbelenggu oleh waktu
Walau asa terus memaki
Takkan pernah bisa berlari
Saat semuanya sirna
Haruskah berduka atau tertawa
Ku tak pernah bisa membaca
Walau semua aksara jiwa
Mengalir dalam aorta
Saat tak ada yang mengerti
Untuk apa harus berlari
Untuk apa menjerit
Meronta-ronta dijalanan
Seperti orang pesakitan
Saat ini
Ku hanya inigin sendiri
Memasrah mematung diri
Di gerogoti oleh mimpi
Hingga seribu purnama kembali
Langganan:
Postingan (Atom)










