Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sejarah Hari Raya Nyepi Agama Hindu

Oleh : Drs. I Gusti Made Ngurah, M.Si., IHDN – Denpasar

Bila Anda tinggal di Bali, pasti akan merasakan suasana Nyepi yang jarang ditemui di kota lain di Indonesia. Di Bali, umat Hindu merayakan Nyepi secara serentak. Nyepi yang identik dengan suasana sepi dan gelap gulita ternyata mempunyai sejarah nya sendiri. Berikut Sejarah Nyepi:

Kita semua tahu bahwa agama Hindu berasal dari India dengan kitab sucinya Weda. Di awal abad masehi bahkan sebelumnya, Negeri India dan wilayah sekitarnya digambarkan selalu mengalami krisis dan konflik sosial berkepanjangan.

Pertikaian antar suku-suku bangsa, al. (Suku Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya) menang dan kalah silih berganti. Gelombang perebutan kekuasaan antar suku menyebabkan terombang-ambingnya kehidupan beragama itu. Pola pembinaan kehidupan beragama menjadi beragam, baik karena kepengikutan umat terhadap kelompok-kelompok suku bangsa, maupun karena adanya penafsiran yang saling berbeda terhadap ajaran yang diyakini.

Kue Keranjang


Kue keranjang sering disingkat Kue ranjang yang disebut juga sebagai Nian Gao atau dalam dialek Hokkian Tii Kwee yang mendapat nama dari wadah cetaknya yang berbentuk keranjang, adalah kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula, serta mempunyai tekstur yang kenyal dan lengket. Kue ini merupakan salah satu kue khas atau wajib perayaan tahun baru Imlek. Kue keranjang ini mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, enam hari menjelang tahun baru Imlek (Jie Sie Siang Ang), dan puncaknya pada malam menjelang tahun baru Imlek. Sebagai sesaji, kue ini biasanya tidak dimakan sampai Cap Go Meh (malam ke-15 setelah Imlek).

Dipercaya pada awalnya kue ini ditujukan sebagai hidangan untuk menyenangkan dewa Tungku agar membawa laporan yang menyenangkan kepada raja Surga (Yu Huang Da Di). Selain itu, bentuknya yang bulat bermakna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang

Di Cina terdapat kebiasaan saat tahun baru Imlek untuk terlebih dahulu menyantap kue keranjang sebelum menyantap nasi sebagai suatu pengharapan agar dapat selalu beruntung dalam pekerjaannya sepanjang tahun.

Nien Kao atau Nian Gao, kata Nian sendiri berati tahun dan Gao berarti kue dan juga terdengar seperti kata tinggi, oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Makin ke atas makin mengecil kue yang disusun itu, yang memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu banyaknya atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.

Makam : Daeng Manambong, Habib Husin Al-Qadri dan Sultan Abdurrahman Al-Qadri

 Gambar 1
Gambar 1

(Gambar 1) Makam Opu Daeng Manambong. Opu Daeng Manambong merupakan salah satu tokoh yang disegani oleh masyarakat. Ntah darimana asalanya, apakah asli putra daerah ataukah bukan, sebab tak banyak cerita yang saya dapat tentang Opu daeng manambong. Yang pasti baliau juga merupakan salah satu tokoh yang turut membantu menyebarkan agama islam di Kalbar. Hal ini terbukti banyaknya masyarakat yang datang untuk berkunjung. Walaupun tempatnya jauh dari keamaian serta berada didataran yang agak tinggi, namun tak sedikit pengunjung yang datang untuk ziarah, apalagi disaat hari-hari besar.

Gambar 2

(Gambar 2) Keliatan tampak seperti pohon yang sudah rapuh. Konon pohon itu merupakan kayu belian (kayu ulin) bekas untuk menyimpan (pangkher) ayam. Pohon itu berasal dari kayu penumbuk (khentong) yang oleh Daeng ditancapkan untuk mengikat ayamnya. Menurut ceritanya, dulu daeng punya hobi mengadu ayam.
uniknya, Menurut masyarakat setempat, penumbuk tadi lama kelamaan tumbuh besar hingga menjadi sebuah pohon. Karena dianggap punya khasiat tersendiri, akhirnya pohon itu oleh masyarakat diambil sedikit demi sedikit, hingga hampir habis.

Gambar 3

(Gambar 3) Keliatan tampak seperti kolam kecil. Menurut cerita, kolam ini merupakan bekas pemandian para putri Daeng. namun sekarang kolam itu sudah kering, mungkin kurangnya perawatan dari masyarakat.

Gambar 4

(Gambar 4) Merupakan Makam Habib Husin Al-Qadri. Habib Husin Al-Qadri juga merupakan salah satu tokkoh penyebar islam di kalbar, yang kemudian mendirikan kesultanan di Mempawah. Letak makam juga tidak begitu jauh dari makam Daeng.
Diasamping itu, Habib Husin juga merupakan besan dari Daeng Manambong.

Gambar 5


(Gambar 5) Sultan Abdurrahman merupakan putra dari Habib Husin, sekaligus Menantu darei Daeng manambong. Makamnya terletak di Batulayang Pontianak, manenurut ceritanya, dulu beliau hijrah dari mempawah ke Pontianak. Beliau juga Perintis lahirnya nama Kota Pontianak...tentang Sultan Abdurrahman, selengkapnya baca disni

Menuju makam daeng

 Tempat mengikat (pangkher) ayam


Habib Husein Bin Abu bakar Al-Idrus Kramat Luar batang

Kumuh,  mungkin kata itu yang bisa diungkapkan untuk menggambarkan kondisi lingkungan ini. Luar batang namanya. Sebuah nama jalan di kawasan Penjaringan Jakarta Utara. Namun, dalam kawasan tersebut ada sebuah masjid. Masjid yang bukan hanya sekedar masjid. Letaknya berada diantara pemukiman warga. Yang membuat berbeda di masjid itu ialah adanya dua buah makam seorang Wali Allah yang terkenal dizamanya. Beliau ialah Habib Husin bin Abubakar Alaydrus dan Haji Abdul Kadir murid beliau.

Selain untuk menunaikan ibadah sholat lima waktu, masjid ini juga ramai dikunjungi orang dengan tujuan berziarah ke makam sang Wali Allah yang tepat berada di samping bangunan masjid tersebut. Malam jum’at kliwon ribuan orang datang berziarah ke makam yang sudah di anggap keramat ini. Alas an orang berziarah ke makam tersebut antara lain memanjatkan doa bagi sang Wali, dan mengaharap keberkahan serta Ridho Allah SWT.

Banyak orang bertanya mengenai awal mulanya Kramat Luar Batang itu. Nama Luar Batang berawal dari sang Pendakwah yang berasal dari Timur Tengah. Habib Husin bin Abubakar Alaydrus namanya. Beliau lahir di Migrab, dekat Hazam, Hadramaut Yaman. dilahirkan sebagai anak yatim, yang dibesarkan oleh seorang ibu dimana sehari-harinya hidup dari hasil memintal benang pada perusahaan tenun tradisional. Beliau kecil sungguh hidup dalam kesederhanaan.

Setelah memasuki usia belia, sang ibu menitipkan habib husein pada seorang “Alim Shufi”. Disanalah ia menerima tempaan pembelajaran thariqah. Ditengah-tengah kehidupan diantara murid-murid yang lain, tampak habib Husein memiliki perilaku dan sifat-sifat yang lebih dari temanya.

Waktu demi waktu berlalu, kini beliau telah menginjak usia dewasa. Setiap ahli thariqah senantiasa memiliki panggilan untuk melakukan hijrah, dalam rangka mensiarkan islam ke belahan bumi Allah. Untuk melaksanakan keinginan tersebut Habib Husein tidak kekurangan akal, ia bergegas menghampiri para kafilah dan musafir yang sedang melakukan jual-beli di pasar pada setiap hari Jum’at.

Setelah dipastikan mendapatkan tumpangan dari salah seorang kafilah yang hendak bertolak ke India , maka beliau menghampiri sang ibu untuk meminta ijin. Ibunya tidak mengizinkan beliau untuk dakwah kewilayah lain dan mengurungnya disebuah kamar. Maksud sang ibu agar beliau melupakan niatnya untuk dakwah kenegara lain. Lalu sang ibu meminta tolong kepada beliau untuk mengerjakan pintalan benang yang ada di kamar tersebut. Seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya maka beliau menyanggupi apa yang diperintahkan ibunya. Hari mulai gelap, ibunya pun menyiapkan beliau makan malam. Gelap berganti terang sang Ibupun membuka pintu kamar hendak melihat anaknya. Ibunya heran karena makanan yang telah disediakan masih utuh belum dimakan sama sekali. Lalu sang Ibu kaget melihat hasil pintalan benang begitu banyaknya. Dalam benaknya terpikir bagaimana mungkin hasil pemintalan benang yang seharusnya dikerjakan dalam beberapa hari, bisa hanya dikerjakan kurang dari semalam, padahal Habib Husin dijumpai dalam keadaan tidur pulas disudut kamar.

Kejadian ini pun diceritakan kepada guru thariqah yang membimbing anaknya tersebut. Mendengar cerita itu sang guru berkata “Sungguh Allah berkehendak pada anakmu, untuk diperoleh derajat yang tinggi disisiNya”. Hendaknya ibu berbesar hati dan tidak terlalu keras kepadanya, rahasiakan segala sesuatu yang terjadi pada anakmu.

Akhirnya walau dengan berat hati, seorang ibu harus melepaskan dan merelakan kepergian puteranya. Habib Husein mencoba membesarkan hati ibunya lalu berkata, “janganlah takut dan berkecil hati, apapun akan ku hadapi, senantiasa bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Ia bersama kita”. Akhirnya Habib Husein berangkat menuju daratan India.

Sampailah Habib Husein disebuah kota bernama “Surati” atau lebih di kenal kota Gujarat. Pada masa itu penduduknya mayoritas memeluk agama Budha. Dari situlah beliau mulai mensyiarkan Islam di kota tersebut dan sekitarnya.Daerah itu sangat kering dan tandus karena telah bertahun-tahun tidak diguyur hujan dan mayoritas masyarakatnya mengidap penyakit kulit. Melihat wilayahnya didatangi orang asing, pertama yang ada dibenak sang kepal suku ialah bahwa orang asing tersebut merupakan titisan dewa. Sang kepala suku pun bertanya kepada Habib Husein mengenai tujuanya datang ketempat ini. Habib husein pun menjawab dengan penuh rasa hormat, “saya datang ke wilayah ini untuk dakwah agama islam”. Mendengar perkataan beliau, sang kepala suku pun memberi syarat kepadanya. Kepala suku menantang beliau untuk mendatangkan hujan agar wilayahnya subur dan penyakit yang diderita masyarakatnya sembuh. Permintaan tersebut disambut baik oleh Habib, lalu beliau mengadakan perjanjian kepada kepala suku dan masyarakat. Jika turun hujan, maka semua masyarakat tersebut bersyahadat masuk dalam ajaran agama islam. Perjanjian pun telah disepakati kedua belah pihak. Lalu habib Husein memerintahkan beberapa orang dari mereka untuk menggali sumur dan sebuah kolam. Setelah itu beliau bermunajad memohon kepada Allah agar diturunkan hujan. Tak lama kemudian dengan kekuasaan Allah, hujan turun dengan derasnya, wilayah yang tadinya tandus kini menjadi subur dan hijau. Masyarakat yang mengidap penyakit kulit sehat kembali dengan mandi di kolam yang dibuatnya. Dan pada akhirnya kepala suku beserta masyarakatnya mengucapkan syahadat menandakan mereka telah masuk agama islam.

Tak lama kemudian beliau melanjutkan perjalanannya menuju Asia Tenggara. Dengan berat hati masyarakat Gujarat melepas kepergian beliau untuk dakwah. Setelah lama mengarungi lautan sampailah beliau di pulau Jawa, dan menetap di kota Batavia, sebutan Jakarta tempo dulu. Batavia adalah pusat pemerintahan Belanda, dan memiliki pelabuhan yang dikenal dengan nama Sunda Kelapa. Pelabuhan tersebut merupakan pelabuhan teramai dan terbesar dizamanya. Pada tahun 1736 M Habib Husein tiba di Luar Batang, daerah Pasar Ikan, Jakarta, yang merupakan benteng pertahanan Belanda di Jakarta.

Kapal layar yang ditumpangi Habib Husein terdampar didaerah ini, padahal daerah ini tidak boleh dikunjungi orang, maka beliau dan rombongan diusir dengan digiring keluar dari teluk Jakarta. Tidak beberapa lama kemudian Habib Husein dengan sebuah sekoci terapung-apung dan terdampar kembali di daerah yang dilarang oleh Belanda. Kemudian seorang Betawi membawa Habib Husein dengan menyembunyikannya. Orang Betawi ini pun berguru kepada Habib Husein. Disini tempat persinggahan terakhir dalam mensyiarkan Islam. Beliau mendirikan Surau sebagai pusat pengembangan agama islam. Banyak orang silaturahmi dan belajar agama islam kepada beliau. Tidak hanya bersilaturahmi dan belajar ilmu agama saja, ada sebagian orang yang datang dengan tujuan minta didoakan tentang masalah yang dihadapi. Masyarakat yang berkunjung bukan saja berasal dari daerah sekitarnya, melainkan juga datang dari wilayah lain.

Melihat pesatnya pertumbuhan dan minat orang yang datang untuk belajar agama Islam ke Habib Husein mengundang kesinisan dari pemerintah VOC Belanda, yang di pandang akan menggangu ketertiban dan keamanan. Pemerintah Belanda pun tidak tinggal diam atas kejadian tersebut, akhirnya Habib Husein beserta beberapa pengikut utamanya di jatuhi hukuman, dan ditahan di penjara Glodok. Bangunan tersebut juga dikenal dengan sebutan “seksi dua”. Rupanya dalam tahanan tersebut, Habib Husein ditempatkan dalam kamar terpisah dan ruangan yang sempit, sedangkan pengikutnya ditempatkan di ruangan yang besar bersama tahanan yang lain.

Polisi penjara atau sipir dibuat terheran-heran karena ditengah malam melihat Habib Husein menjadi imam di ruangan penjara besar. Beliau memimpin shalat bersama-sama para pengikutnya. Hingga menjelang subuh masyarakat di luar pun ikut bermakmum. Akan tetapi anehnya dalam waktu yang bersamaan pula polisi penjara tersebut melihat Habib Husein tidur nyenyak di kamar ruangan yang sempit itu, dalam keadaan tetap terkunci.

Dari kejadian tersebut berkembang omongan yang menjadi buah bibir dikalangan pemerintahan VOC. Dengan segala pertimbangan, akhirnya pemerintah Belanda meminta maaf atas penahanan tersebut, Habib Husein beserta semua pengikutnya dibebaskan dari tahanan.Kejadian tersebut merupakan karomah. Istilah karomah secara estimologi dalam bahasa arab berarti mulia, sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia (terbitan balai pustaka, Jakarta 1995, hal 483) menyebutkan karomah dengan keramat, diartikan suci dan dapat mengadakan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa karena ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam ajaran Islam karomah di maksudkan sebagai khariqun lil adat yang berarti kejadian luar biasa pada seseorang wali Allah. Karomah merupakan tanda-tanda kebenaran sikap dan tingkah laku seseorang, yang merupakan anugrah Allah karena ketakwaannya.

Peristiwa lain yang menjadi bukti bahwa beliau merupakan Wali Allah yang memiliki karomah yang diberikan ialah Mengislamkan tawanan. Pada suatu malam Habib Husein dikejutkan oleh kedatangan seorang yang berlari padanya karena di kejar oleh tentara VOC. Dengan pakaian basah kuyub, ia meminta perlindungan karena akan dikenakan hukuman mati. Ia adalah tawanan dari sebuah kapal dagang Tionghoa. Keesokan harinya datanglah pasukan tentara berkuda VOC ke rumah Habib Husein untuk menangkap tawanan yang dikejarnya. Beliau tetap melindungi tawanan tersebut, sambil berkata : “Aku akan melindungi tawanan ini dan aku adalah jaminannya”. Rupanya ucapan tersebut sangat di dengar oleh pasukan VOC. Semua menundukkan kepala dan akhirnya pergi, sedangkan tawanan Tionghoa itu sangat berterima kasih, sehingga akhirnya ia memeluk Islam. Menurut cerita dari Habib Ismail yang merupakan keturunan Alaydrus, pasukan VOC menundukan kepalanya dikarenakan ada dua ekor harimau yang ada dipundak habib husein. Yang merupakan Qodam atau pembantu gaib habib husein. “Belanda takut sebab ada dua macan dipundak habib husein”, ungkap habib Ismail sambil tersenyum..

Berlanjut setelah orang tionghoa bersyahadat memasuki agama islam, pada suatu hari Habib Husein dengan ditemani oleh seorang mualaf Tionghoa yang telah berubah nama Abdul Kadir duduk berteduh di daerah Gambir. Disaat mereka beristirahat lewatlah seorang Sinyo. Sinyo merupakan sebutan bagi anak seorang Belanda pada saat itu. Sikap santai yang ada pada dirinya, Sinyo tersebut berjalan mendekat ke Habib Husein. Seketika Habib Husein menghentakan tangannya ke dada anak Belanda tersebut. Si Sinyo pun kaget dan berlari ke arah pembantunya. Dengan cepat Habib Husein meminta temannya untuk menghampiri pembantu anak Belanda tersebut, untuk menyampaikan pesan agar disampaikan kepada majikannya, bahwa kelak anak ini akan menjadi seorang pembesar di negeri ini. Seiring berjalannya waktu, anak Belanda itu melanjutkan sekolah tinggi di negeri Belanda. Sekian lama ia belajar, akhirnya sinyo pun mengakhirkan pendidikanya dari Belanda. Kemudian setelah lulus, pemerintah Belanda memberikan kepercayaan kepada sinyo tersebut, lalu ia di angkat menjadi Gubernur Batavia. Spontan sinyo tersebut ingat kepada habib husein yang mengatakan bahwa ia akan menjadi pembesar dinegeri ini.

Gubernur Batavia yang pada masa kecilnya telah diramal oleh Habib Husein bahwa kelak akan menjadi orang besar di negeri ini, ternyata memang benar adanya. Rupanya Gubernur muda itu menerima wasiat dari ayahnya yang baru saja meninggal dunia. Sang ayah wasiatkan kalau memang apa yang dikatakan Habib Husein menjadi kenyataan anaknya diminta agar membalas budi dan jangan melupakan jasa Habib Husein. Akhirnya Sinyo yang menjadi Gubernur Batavia tersebut menghadiahkan beberapa karung uang kepada Habib Husein. Uang itu diterima oleh habib husein, tetapi setelah diberikan lalu dibuangnya ke laut. Demikian pula setiap pemberian uang berikutnya, Habib Husein selalu menerimanya, tetapi juga dibuangnya ke laut. Gubernur yang memberi uang menjadi penasaran dan akhirnya bertanya mengapa uang pemberiannya selalu di buang ke laut. Dijawab oleh Habib Husein bahwa uang tersebut dikirimkan untuk ibunya ke Hadromaut, Yaman Selatan.

Sang Gubernur itu dibuatnya penasaran, akhirnya diperintahkan penyelam untuk mencari karung yang berisi uang yang diberikan ke habib husein lalu di buang ke laut. Penyelam yang diperintahkan mencari, tak satu pun menemukan uang yang dibuang kelaut tersebut. Selanjutnya Gubernur Batavia tetap berupaya untuk membuktikan kebenaran kejadian ganjil tersebut, maka ia mengutus seorang ajudan ke negeri Yaman untuk bertemu dan menanyakan kepada ibunda Habib Husein. Sekembalinya dari Yaman, ajudan Gubernur tersebut melaporkan bahwa benar adanya. Ibu Habib Husein telah menerima sejumlah uang yang di buang ke laut tersebut pada jam, hari dan tanggal yang sama. Dari kejadian tersebut sang Gubernur meyakinkan bahwa habib husein bukan orang sembarangan.

Dari kejadian tersebut, Gubernur Batavia sangat penuh perhatian kepada Habib Husein. Ia menanyakan apa keinginan Habib Husein. Jawabnya : “Saya tidak mengharapkan apapun dari tuan.” Akan tetapi Gubernur itu sangat bijak, di hadiahkanlah sebidang tanah di kampung baru, sebagai tempat tinggal dan peristirahatan yang terakhir..

Habib Husein telah di panggil oleh Allah dalam usia muda, ketika berumur kurang lebih 30-40 tahun. Meninggal pada hari kamis tanggal 17 Ramadhan 1169 atau bertepatan tanggal 27 Juni 1756 M. Masyarakat sekitar lingkungan tempat tinggal habib husein pun merasa sangat kehilangan. Dan sesuai dengan peraturan yang ada pada masa itu, bahwa setiap orang asing harus di kuburkan di pemakaman khusus yang terletak di Tanah Abang. Sebagaimana layaknya orang yang meninggal, setelah di mandikan, dikafankan, dan disholatkan, jenazah Habib Husein di usung dengan kurung batang (keranda) untuk dikuburkan. Ternyata sesampainya di pemakaman Tanah abang, jenazah Habib Husein tidak ada dalam kurung batang. Anehnya jenazah Habib Husein kembali berada di tempat tinggal semula yaitu dirumahnya.

Dalam bahasa lain jenazah Habib Husein keluar dari kurung batang, pengantar jenazah mencoba kembali mengusung jenazah Habib Husein ke pekuburan yang dimaksud sampai tiga kali bolak-balik, namun demikian jenasah Habib Husein tetap saja keluar dan kembali ke tempat tinggal semula. Akhirnya para pengantar jenazah memahami dan bersepakat untuk memakamkan jenazah Habib Husein di tempat yang merupakan tempat rumah tinggalnya sendiri. Dari kejadian ketika jenazah habib husein tidak terdapat dalam kurung batang atau berada diluar kurung batang, maka kemudian orang menyebutnya “Kampung Baru Luar Batang” dan kini dikenal sebagai “Kampung Kramat Luar Batang”.

Sejarah Kota Pontianak








Kota Pontianak adalah salah satu ibu kota di Provinsi Kalimantan Barat. Oleh etnis Tionghoa di Pontianak.Kota ini juga dikenal dengan nama Khun Tien.
Kota ini terkenal sebagai Kota Khatulistiwa karena dilalui garis lintang nol derajat bumi. Di utara kota ini, tepatnya Siantan, terdapat monumen atau Tugu Khatulistiwa yang dibangun pada tempat yang tepat dilalui garis lintang nol derajat bumi. Selain itu Kota Pontianak juga dilalui Sungai Kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia. Sungai Kapuas membelah kota Pontianak, yang kemudian simbolnya diabadikan sebagai lambang Kota Pontianak.
Syarif Abdurrahman, yang notabene pendiri Kesultanan Pontianak, adalah putra Al Habib Husin, seorang penyebar ajaran Islam yang berasal dari Arab pada tahun 1184 Hijriah sekaligus sebagai pendiri Kerajaan Mempawah.
Tiga bulan setelah ayahnya wafat, Syarif Abdurrahman bersama dengan saudara-saudaranya bermufakat untuk mencari tempat kediaman baru. Mereka berangkat dengan 14 perahu Kakap menyusuri Sungai Peniti. Waktu dhohor mereka sampai di sebuah tanjung, Syarif Abdurrahman bersama pengikutnya menetap di sana. Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Kelapa Tinggi Segedong. Namun Syarif Abdurrahman mendapat firasat bahwa tempat itu tidak baik untuk tempat tinggal, kemudian ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mudik ke hulu sungai. Tempat Syarif Abdurrahman dan rombongan sembahyang dhohor itu kini dikenal sebagai Tanjung Dhohor. Ketika menyusuri Sungai Kapuas sepanjang 1,1 megameter, mereka menemukan sebuah pulau, yang kini dikenal dengan nama Batu Layang, dimana sekarang di tempat itulah Syarif Abdurrahman beserta keturunannya dimakamkan. Akan tetapi dipulau itu mereka sering mendapat gangguan hantu Kuntilanak.
Konon, nama Pontianak dipercaya ada kaitannya dengan kisah dongeng Syarif Abdurrahman yang sering diganggu oleh hantu kuntilanak tersebut. Menurut ceritanya, guna menyinggkirkan gangguan makhluk halus tersebut, Sultan memerintahkan awak kapal menembakkan meriam. Sebelum peluru meriam dimuntahkan, beliau bernazar “di mana peluru meriam jatuh, di situlah akan didirikan kesultanan”. Ikrar itupun dilaksanakan. Akhirnya nama Pontianak diambil dari nama hantu yang sering mengganggu Sultan. Peluru meriam itu jatuh melewati simpang tiga Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang kini lebih dikenal dengan Beting Kampung Dalam Bugis Pontianak Timur atau kota Pontianak.
Kegiatan membunyikan Meriam Karbit ini pun di kota Pontianak kemudian dilestarikan secara turun-temurun hingga menjadi salah satu kebudayaan setempat. Namun, bukan untuk mengusir hantu melainkan untuk perayaan hari-hari besar, seperti Ramadhan, Lebaran, dan Tahun Baru.
Menjelang subuh 14 Rajab 1184 Hijriah atau 23 Oktober 1771, mereka sampai pada persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak, setelah delapan hari menebas pohon di daratan itu, maka Syarif Abdurrahman lalu membangun sebuah rumah dan balai, dan kemudian tempat tersebut diberi nama Pontianak. Di tempat itu kini berdiri Masjid Jami’ dan Keraton Pontianak.
Akhirnya pada tanggal 8 bulan Sya'ban 1192 Hijriah, dengan dihadiri oleh Raja Muda
Riau, Raja Mempawah, Landak, Kubu dan Matan, Syarif Abdurrahman dinobatkan sebagai Sultan Pontianak dengan gelar Syarif Abdurrahman Ibnu Al Habib Alkadrie. Wassalam

Pesta Halloween


Halloween selalu dirayakan setiap tahun tanggal 31 Oktober malam oleh umat Kristiani, terutama di luar negeri. Di Indonesia juga dirayakan, walaupun masih terbatas pada acara-acara yang diselenggarakan kaum selebritis. Sebenarnya apa sih Halloween itu? Kenapa mereka memakai kostum serba menakutkan? Benarkah itu dulunya berkaitan dengan pemujaan terhadap setan, atau hanya sekedar ritual kuno?

Kata ‘Halloween’ barasal dari All Hallows Eve (malam mensucikan), karena keesokan harinya adalah hari peringatan untuk menghormati orang suci bagi umat Kristiani (All Saints Day). Salah satu cerita mengatakan bahwa Halloween diperkenalkan oleh bangsa Celtik di Irlandia yang percaya bahwa pada tanggal 31 Oktober malam roh-roh orang yang sudah meninggal gentayangan untuk merasuki tubuh mereka yang masih hidup.

Tentu saja mereka tak mau dirasuki oleh roh-roh gentayangan tersebut. Karena itu ketika malam sudah mulai mengintip tanggal 31 Oktober, para penduduk desa mematikan api yang menyala dalam dalam rumah sehingga tubuh mereka dingin dan roh tidak mau memasukinya. Mereka kemudian berpakaian yang menakutkan dan berkeliling desa dengan suara gaduh untuk menakut-nakuti roh gentayangan yang ingin merasuki tubuh mereka.

Sejumlah sumber mengatakan bahwa bangsa Celtik akan membakar mereka yang kerasukan sebagai pelajaran bagi roh-roh lainnya agar tidak berani merasuki. Sumber lainnya mengatakan itu hanya mitos saja. Kebiasaan merayakan Halloween dibawa ke Amerika oleh para imigran Irlandia yang mengalami bencana kelaparan di tahun 1840an.

Akan tetapi kebiasaan trick-or-treat dipercaya berasal dari budaya bangsa Eropa abad ke sembilan. Mereka merayakan hari roh tiap tanggal 2 November dengan cara berjalan dari desa ke desa meminta ‘kue roh’ yang berupa roti dengan kismis. Semakin banyak kue yang mereka dapat, semakin banyak pula doa yang akan mereka panjatkan untuk keluarga yang sudah meninggal dari si pemberi kue. Dengan demikian diharapkan roh mereka akan langsung masuk ke surga dan tidak gentayangan lagi.

Lentera dalam labu kuning diperkirakan berasal dari budaya rakyat Irlandia. Ada cerita rakyat tentang seorang lelaki bernama Jack yang pemabuk dan penipu. Suatu hari ia membujuk setan untuk naik ke sebuah pohon. Setelah setan tersebut berada di atas pohon, Jack mengukir salib di batang pohon tersebut sehingga setan tak bisa turun dan terjebak di atas.

Ketika meninggal, Jack tidak boleh masuk surga karena kelakuannya yang ugal-ugalan sewaktu hidup, tapi juga tidak bisa masuk ke neraka karena telah memperdayai setan. Setan kemudian memberi Jack bara api untuk menerangi jalannya yang gelap dan dingin. Agar bara api diletakkan di dalam lobak agar bisa menyala terus. Ketika para imigran Irlandia datang ke Amerika mereka lebih mudah menemukan labu kuning daripada lobak. Akhirnya sampai sekarang labu kuning yang dipakai sebagai Jack-O-Lantern.

Jadi walaupun sejumlah kelompok pemuja setan dan sejenisnya memperlakukan Halloween sebagai hari raya utama, tapi praktek-praktek negatif berbau kesetanan tidak berkembang. Yang berkembang adalah ritual untuk memperingati tahun baru bangsa Celtic.

Salam Pemuda

Selama ini telinga kita sudah sering dipekakan dengan banyaknya kabar kotor dari para pemimpin bangsa, harta negara di buat foya-foya. Selama ini mata kita sudah sering perihkan dengan banyaknya bencana yang sampai saat ini masih belum teratasi dengan rapi, sampah yang masih berserakan, mayat-mayat bergeletakan, rumah-ruamh yang berantakan, anak kecil yang masih berkeliaran di jalan, toko dan trotoar persimpangan. inikah gambaran negri tercinta kita...?
Hari ini, hari yang penuh bersejarah, khususnya bagi segenap pemuda pemudi bangsa Indonesia. mari kita jadikan hari ini sebagai refleksi untuk memfilter diri dalam arus globalisasi yang makin lama makin menjajah negri. Demi mewujudkan keinginan bersama, yakni mencari para penerus bangsa yang jujur, adil, amanah serta bertanggung jawab.

Biografi KH. Ahmad Asrori Al-ishaqi Kedinding Surabaya


KH. Ahmad Asrori Al-ishaqi merupakan putera dari Kyai Utsman Al-Ishaqi. Beliau mengasuh Pondok Pesantren Al-Fithrah Kedinding Surabaya. Kelurahan Kedinding Lor terletak di Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya. Di atas tanah kurang lebih 3 hektar berdiri Pondok Pesantren Al-Fithrah yang diasuh Kiai Ahmad Asrori, putra Kiai Utsman Al-Ishaqy. Nama Al-Ishaqy dinisbatkan kepada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena Kiai Utsman masih keturunan Sunan Giri. Semasa hidup, Kiai Utsman adalah mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Dalam dunia Islam, tarekat Naqsyabandiyah dikenal sebagai tarekat yang penting dan memiliki penyebaran paling luas; cabang-cabangnya bisa ditemukan di banyak negeri antara Yugoslavia dan Mesir di belahan barat serta Indonesia dan Cina di belahan timur. Sepeninggal Kiai Utsman tahun 1984, atas penunjukan langsung Kiai Utsman, Kiai Ahmad Asrori meneruskan kedudukan mursyid ayahnya. Ketokohan Kiai Asrori berawal dari sini.

Tugas sebagai mursyid dalam usia yang masih muda ternyata bukan perkara mudah. Banyak pengikut Kiai Utsman yang menolak mengakui Kiai Asrori sebagai pengganti yang sah. Sebuah riwayat menceritakan bahwa para penolak itu, pada tanggal 16 Maret 1988 berangkat meninggalkan Surabaya menuju Kebumen untuk melakukan baiat kepada Kiai Sonhaji. Tidak diketahui dengan pasti bagaimana sikap Kiai Asrori terhadap aksi tersebut namun sejarah mencatat bahwa Kiai Arori tak surut. Ia mendirikan pesantren Al-Fithrah di Kedinding Lor, sebuah pesantren dengan sistem klasikal, yang kurikulum pendidikannya menggabungkan pengetahuan umum dan pengajian kitab kuning. Ia juga menggagas Al-Khidmah, sebuah jamaah yang sebagian anggotanya adalah pengamal tarekat Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Jamaah ini menarik karena sifatnya yang inklusif, ia tidak memihak salah satu organisasi sosial manapun. Meski dihadiri tokoh-tokoh ormas politik dan pejabat negara, majelis-majelis yang diselenggarakan Al-Khidmah berlangsung dalam suasana murni keagamaan tanpa muatan-muatan politis yang membebani. Kiai Asrori seolah menyediakan Al-Khidmah sebagai ruang yang terbuka bagi siapa saja yang ingin menempuh perjalanan mendekat kepada Tuhan tanpa membedakan baju dan kulit luarnya. Pelan tapi pasti organisasi ini mendapatkan banyak pengikut. Saat ini diperkirakan jumlah mereka jutaan orang, tersebar luas di banyak provinsi di Indonesia, hingga Singapura dan Filipina. Dengan kesabaran dan perjuangannya yang luar biasa, Kiai Asrori terbukti mampu meneruskan kemursyidan yang ia dapat dari ayahnya. Bahkan lebih dari itu, ia berhasil mengembangkan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ke suatu posisi yang mungkin tak pernah ia bayangkan.

Kiai Asrori adalah pribadi yang istimewa. Pengetahuan agamanya dalam dan kharisma memancar dari sosoknya yang sederhana. Tutur katanya lembut namun seperti menerobos relung-relung di kedalaman hati pendengarnya. Menurut keluarga dekatnya, sewaktu muda Kiai Asrori telah menunjukkan keistimewaan-keistimewaan. Mondhoknya tak teratur. Ia belajar di Rejoso satu tahun, di Pare satu tahun, dan di Bendo satu tahun. Di Rejoso ia malah tidak aktif mengikuti kegiatan ngaji. Ketika hal itu dilaporkan kepada pimpinan pondok, Kiai Mustain Romli, ia seperti memaklumi, “biarkan saja, anak macan akhirnya jadi macan juga.” Meskipun belajarnya tidak tertib, yang sangat mengherankan, Kiai Asrori mampu membaca dan mengajarkan kitab Ihya’ Ulum al-Din karya Al-Ghazali dengan baik. Di kalangan pesantren, kepandaian luar biasa yang diperoleh seseorang tanpa melalui proses belajar yang wajar semacam itu sering disebut ilmu ladunni (ilmu yang diperoleh langsung dari Allah SWT). Adakah Kiai Asrori mendapatkan ilmu laduni sepenuhnya adalah rahasia Tuhan, wallahu a’lam. Ayahnya sendiri juga kagum atas kepintaran anaknya. Suatu ketika Kiai Utsman pernah berkata “seandainya saya bukan ayahnya, saya mau kok ngaji kepadanya.” Barangkali itulah yang mendasari Kiai Utsman untuk menunjuk Kiai Asrori (bukan kepada anak-anaknya yang lain yang lebih tua) sebagai penerus kemursyidan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah padahal saat itu Kiai Asrori masih relatif muda, yaitu 30 tahun. Wassalam

"Pak Sakera" dan Sejarahnya


Sakera adalah seorang tokoh pejuang yang lahir di kelurahan Raci Kota Bangil, Pasuruan, Jatim, Indonesia. Ia berjuang melawan penjajahan Belanda pada awal abad ke-19. Sakera sadalah seorang jagoan daerah yang melawan penjajah Belanda di perkebunan tebu Kancil Mas Bangil. Legenda jagoan berdarah Bangil ini sangat populer di Jawa Timur utamanya di Pasuruan dan Madura.

Sakera bernama asli Sadiman yang bekerja sebagai mandor di perkebunan tebu milik pabrik gula kancil Mas Bangil. Ia dikenal sebagai seorang mandor yang baik hati dan sangat memperhatikan kesejahteraan para pekerja hingga dijuluki Pak Sakera. Suatu saat setelah musim giling selesai, pabrik gula tersebut membutuhkan banyak lahan baru untuk menanam tebu. Karena kepentingan itu orang Belanda pimpinan ambisius perusahaan ini ingin membeli lahan perkebunan yang seluas-luas dengan harga semurah-murahnya.dengan cara yang licik orang belanda itu menyuruh carik Rembang untuk bisa menyediakan lahan baru bagi perusahaan dalam jangka waktu singkat dan murah, dan dengan iming-iming harta dan kekayaan hingga carik Rembang bersedia memenuhi keinginan tersebut. Carik Rembang menggunakan cara-cara kekerasan kepada rakyat dalam mengupayakan tanah untuk perusahaan. Sakera melihat ketidak adilan ini mencoba selalu membela rakyat dan berkali kali upaya carik Rembang gagal. Carik Rembang melaporkan hal ini kepada pemimpin perusahaan. Pemimpin perusahaan marah dan mengutus wakilnya Markus untuk membunuh Sakera. Suatu hari di perkebunan pekerja sedang istirahat, Markus marah-marah dan menghukum para pekerja serta menantang Sakera. Sakera yang dilapori hal ini marah dan membunuh Markus serta pengawalnya di kebon tebu. Sejak saat itu Sakera menjadi buronan polisi pemerintah Hindia Belanda. Suatu saat ketika Sakera berkunjung ke rumah ibunya, disana ia dikeroyok oleh carik Rembang dan polisi Belanda. Karena ibu Sakera diancam akan dibunuh maka Sakera ahirnya menyerah, Sakera pun masuk penjara Bangil.

Siksaan demi siksaan dilakukan polisi belanda kepada sakera setiap hari. selama dipenjara Pak Sakera selalu kangen dengan keluarga dirumahnya, Sakera memiliki istri yang sangat cantik bernama Marlena dan seorang keponakan bernama Brodin. Berbeda dengan Sakera yang berjiwa besar, Brodin adalah pemuda nakal yang suka berjudi dan sembunyi-sembunyi mengincar Marlena istri Sakera. Berkali kali Brodin berusaha untuk mendekati Marlena. Sementara Sakera ada dipenjara, Brodin berhasil berselingkuh dengan Marlena. Ketika kabar itu sampai di telinga Sakera maka Sakera marah dan kabur dari penjara. Brodin pun tewas dibunuh Sakera. Kemudian Pak Sakera melakukan balas dendam secara berturut turut, dimulai Carik Rembang dibunuh, dilanjutkan dengan menghabisi para petinggi perkebunan yang memeras rakyat. Bahkan kepala polisi Bangil pun ditebas tanganya dengan senjata khasnya ‘Clurit’ ketika mencoba menangkap Sakera. Dengan cara yang licik pula polisi belanda mendatangi teman seperguruan sakera yang bernama Aziz untuk mencari kelemahan Pak Sakera. Dengan iming-iming akan diberi imbalan kekayaan oleh Goverment Belanda di Bangil Aziz menjebak Sakera dengan mengadakan tayuban, karena tahu Sakera paling senang acara tayuban akhirnya Sakera pun terjebak dan dilumpuhkan ilmunya degan pukulan bambu apus. Lagi-lagi belanda berhasil mertangkap kembali Pak Sakera yang kemudian diadili oleh Government Bangil dan diputuskan untuk dihukum gantung. Sakera gugur digantung di penjara Bangil dan Ia dimakamkan di Bekacak, Kelurahan Kolursari (daerah paling selatan Kota Bangil).


sumber :
film pak sakerah
http://www.citwf.com/film259987.htm
http://www.livevideo.com/video/458A4DC8ED8548589B2FD9ED3A20CD64/silat-pak-sakerah-2.aspx
http://www.livevideo.com/media/favorited.aspx?cid=4AC6235843BF4CB58A23599A39FDD16F